PERBEDAAN ITU NYATA

Published 26 Desember 2010 by RahayuAdriani

Cast :

– Malika

– Leeteuk (Super Junior)

– Sungmin (Super Junior)

– Hongki (FT. Island)

Sebelumnya hanya ingin memberitahu kalau FF ini merupakan adaptasi dari hasil pemikiran ku sebagai seorang muslim. FF ini menyangkut tentang SARA dan unsur agama jadi mohon jangan dibashing atau diberi comment yang negatif. Mohon komentarnya ya……..

———————————————————————————————————————————————–

Enjoyed for Reading ^^

Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu. Tapi perasaan cinta, rindu, dan kagumku pada Tuhanku, lebih besar dari apa yang aku rasakan padamu.

Maaf…

———————————————————————————————————————————————-

Seoul 9 Oktober 2009

“hoaaaammmm this is my life” Gumamku.

Kalimat pertama yang biasa aku katakan ketika aku mulai masuk kedalam kamarku yang berwarna putih tanpa ada campuran warna apapun. Disebelah kiri pintu masuk terdapat satu set peralatan komputer lengkap dengan jaringan Internet yang bisa aku gunakan kapanpun aku mau. Dibelakang pintu ada segelantungan jaket dan hoodie yang biasa ku gunakan saat ingin lari pagi. Tidak hanya itu, disisi lain kamarku ada satu lemari berwarna putih bersih dengan coretan lukisan wajahku didepan pintunya. Ya, itu hadiah natal yang diberikan Hye Sun adikku saat natal 2 tahun lalu, katanya khusus dipesan untukku. Kemudian didepan lemari itu, ada benda yang menurutku adalah tempat ternyaman untuk beristirahat. Tempat tidurku, berwarna putih dengan sedikit ukiran cokelat dibagian atasnya persis ukiran kerajaan korea kuno.

Melempar tasku keatas tempat tidur, dan aku mulai merobohkan badanku kedepan.

Plooookkk. Aku tertidur.

—————————————————————————————————————————————–

Seoul, 10 oktober 2009

Pukul 07.00

Aku sudah Siap. Hari ini ada jadwal pemotretan di Seoul Tower. Mungkin sampai malam lagi. Aku selalu mengeluh dengan ini semua, kadang aku merasa kebebasanku tidak ada lagi dengan jadwalku sebagai seorang artis. Tapi tidak apa-apa, toh bukan hanya aku yang merasakannya. Ada teman – teman dari management tempat ku bernaung yang ikut dalam ketidakbebasan ini.

Aku memarkir mobil diatas losmen gedung bertingkat ini. Kemudian keluar dan memastikan tidak ada barang lagi yang lupa aku tinggalkan didalam mobil. Katanya hari ini kami akan berangkat bersama dengan bis SM Management (Management tempatku bernaung sebagai seorang artis).

Aku sampai diloby SM pukul 07.57.

“Hyung” seseorang menepuk punggungku dari belakang. Dan itu pukulan khas Hongki, partner kerjaku yang sudah aku anggap sebagai adikku sndiri.

“aku terus menelfonmu, ku pikir kau tidak jadi datang. Apa kau masih lelah dengan konser mini tadi malam?” itu Sungmin.

Seoul Tower 09.30

Pemotretan dimulai. aku harus memasang gaya yang paling cute didepan kamera sambil memainkan piano sesuai tugasku dalam grup musik ini, Sungmin dengan Gitarnya sebagai seorang vocalis dan Hingki berpose didepan sebuah drum.

Grup musik kami Sangat terkenal diKorea bahkan dibeberapa Negara lain.

Pukul 22.45

Tidak tersa waktu berjalan begitu cepat. Sudah hampir tengah malam. Pemotretan disertai jumpa fans dan pembagian tanda tangan baru selesai sekitar 30 menit yang lalu. Semua kru mulai memberskan perlengkapan pemotretan. Hongki sudah pulang bersama menejernya, sedang Hongki, ahhh entahlah dia kemana aku juga tidak tahu. Sejak tadi dia sudah menghilang entah kemana.

Aku berencana pulang dengan bis SM dan mengambil mobil yang tadi aku parkir Losmen. Tapi kelihatannya para kru masih lama membereskan semua benda itu.

Baik, ku putuskan untuk melihat-lihat sebentar. Sudah lama juga aku tidak mengunjungi tempat ini.

Sudah beberapa menit berlalu

“pasti sudah selesai, baik aku akan kembali dan menunggu didalam bis saja” gumamku

Saat melangkah menuju bis, sekilas aku melihat seorang wanita memakai sepatu ketz putih, dengan celana jeans dan memakai kaos lengkap dengan cardigan biru lembut

“semalam ini masih mau memotret?” tanyaku dalam hati yang melihat wanita itu tengah memegang kamera ditangannya sambil terus memotret katas sana.

Tanpa sadar aku terus memperhatikan wanita didepanku ini. Harus aku akui, dia Manis.

Tubuhnya tidak terlalu kurus dan tidak gemuk. Tingginya mungkin sekitar 163 cm. ada lubang kecil dipipi seblah kirinya, itu jelas terlihat dari tempatku berdiri saat dia sesekali tersenyum dan melihat hasil jempretan kameranya. Sepertinya dia bukan orang Korea. Tapi, Sungguh, dia begitu Manis.

Telfonku berbunyi…

“baik, aku akan segera kembali” kataku sambil menutup telfon dan…

Ohhh tidak, wanita tadi sudah tidak ada. Dia menghilang entah kemana, Sekarang yang terlihat hanya kerlap – kerlip lampu sorot dari atas menara yang berwarna – warni.

Aku kehilangan sosok yang Manis itu…

————————————————————————————————————————————————-

Seoul Tower, 15 Oktober 2009

Pukul 22.30

“tidak datang lagi” gumamku

Sejak malam itu aku seperti orang bodoh yang setiap malam datang ketempat ini. Alasannya cukup jelas, aku ingin bertemu dengan wanita yang malam itu aku lihat disini. Tapi kenapa? Kenapa aku ingin bertmu dengannya lagi? Penasarankah aku? atau aku sudah jatuh hati pada pandangan pertama? Apa iya?

Aku tidak tau kenapa. Tapi yang jelas aku ingin bertemu lagi dengannya. Dan mungkin bukan malam ini lagi. Aku bergegas pulang.

Aku membalikkan badan, dan…

“kau???” kataku sedikit heran dan…. kaget .

“tentu saja aku. Kau pikir siapa lagi?” suara Hongki benar-benar membuat telingaku gatal.

“sedang apa kau disini?” tanyaku pada Dongsaengku ini

“aku, aku tadi ada janji dengan seseorang direstoran depan sana. Kemudian aku melihatmu. Kenapa kau bisa disini?” Hongki kemudaian bertanya lagi

“aku, entahlah” jawabku

“hyung, kau ini benar-benar aneh. Sudahlah, apa ingin pulang bersamaku?”

“tidak, aku akan pulang sendiri, mobilku ada disana.” Kataku sambil menunjuk kearah dimana aku memarkir mobilku

“baiklah, aku pulang duluan.” Kata Hongki kemudia meninggalkanku sendiri didepan menara.

Aku mulai berjalan menuju mobil. Malam ini aku tidak bertemu dengannya lagi. Mungkin dia tidak akan kembali kesini lagi.

Aku putus asa, sampai aku melihatnya berada diseberang jalan sana. Aku memastikan bahwa itu benar-benar sosok yang ingin aku temui beberapa hari ini. Ku lihat punggungnya sudah mulai menghilang dibalik background lampu menara yang berkelap kelip. Aku terus mengejarnya, tidak peduli pada sekitarku yang sudah menjerit histris melihatku berlari.

———————————————————————————————————————————————–

Sungai Han 31 Desember 2009

Sudah beberapa bulan berlalu Sejak pertama aku melihat dia malam itu. Dan tanpa sadar, aku Sekarang Sangat mencintainya. Namanya Malika, dia berasal dari Indonesia. Gadis Manis yang beberapa hari membuatku penasaran akan sosoknya yang entah kenapa bisa aku kagumi.

Malam saat aku berusaha mengejarnya, dia tersenyum ramah padaku. Dan mengucapkan kalimat “annyong haseyo” dengan fasihnya. Malam itu aku berhasil mengajaknya berbicara sampai larut malam.

***********

“apa yang sering kau lakukan disini?” kataku padanya memulai pembicaraan

“mengabadikan sesuatu yang mnurutku indah. Akan aku jadikan kenangan.” Jawabnya dengan Sangat lembut. Aku tertegun setiap kali dia berbicara. Matanya indah, senyumnya terlihat begitu tulus.

“aku belum tahu siapa namamu?” kembali aku bertanya

“aku Malika. Dan kau, Leeteuk.” Jawabnya

“bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku lagi

“hahahahaha” dia tertawa, dan itu membuat darahku berdesir Sangat kencang, aku benar – benar suka padanya.

“kenapa tertawa? Apa aku terlihat lucu?” tanyaku sambil menyentuh wajahku

“tidak, kau hanya membuat aku merasa sedikit geli. Tentu saja aku mengenalmu. Kau adalah Leeteuk, leeader grup The Wings yang Sangat terknal. Bahkan diNegaraku” katanya

“Negaramu?” aku kembali bertanya

“ya, negaraku. Indonesia” dia mnjawab dengan mata berbinar – binar. Aku jadi tau ternyata dia berasal dari Indonesia. Tapi bahasa Korea yang dia gunakan sangatlah bagus dan begitu fasih.

****************

Malam ini, malam tahun baru. Aku akan menyatakan perasaanku padanya.

Walau aku sadar begitu banyak perbedaan antara kami. Perbedaan yang beigtu besar. Bukan hanya negara kami yang berbeda. Tapi kami memiliki agama yang berbeda pula. Dia seorang umat Islam yang selama aku mengenalnya, dia selalu melakukan beberapa hal yang menurutku Sangat melelahkan.

Setiap hari dia membasuh sebagian tubuhnya dengan air, memakai pakaian berwarna putih yang menutupi seluruh tubuhnya hingga yang terlihat hanya wajahnya saja. Tapi Jujur, dia terlihat begitu Manis dalam balutan busana itu, aku Belem pernah melihat gadis semanis dia dinegaraku sendiri. Kemudian dia akan berdiri, membungkuk, duduk dan bersujud dihadapan sebuah tulisan arab besar yang dia sebut “ALLAH”.

Aku selalu berpikir, itukah Tuhan yang selama ini dia sembah? Hanya tulisan Arab besar? Kenapa dia tidak melihat Tuhannya seperti aku melihat Tuhanku dalam gereja? Tapi dia selalu berkata “aku memang tidak bisa melihat Tuhanku, dan sungguh beruntung orang yang bisa melihat Tuhanku dibumi ini. Tapi Tuhanku selalu ada dalam hati, pikiran, dan jiwaku.”

Dan aku yang sejak lahir adalah seorang kristiani. Memang besar perbedaan antara kami. Tapi dengan perbedaan itu dia memiliki alasan tersendiri mengapa merasa nyaman ada didekatku yang jelas-jelas berbeda dengannya.

“perbedaan itu indah, kita dapat melihat suatu kindahan dari sebuah perbedaan”

Dan dengan itu, aku tahu dia akan menerimaku menjadi kekasihnya. Aku juga akan merasa Sangat nyaman bila berada disampingnya. Saat aku bersama dengannya dia akan terus bergelayut manja dilenganku tapi tetap dengan sifat kemandiriannya. Dia sering mendeskripsikan perbedaan – perbedaan itu padaku

“kau lihat, pelangi tidak memiliki warna yang sama. Dan dia terlihat begitu indah. Lampu menara Seoul juga begitu. Warnanya berbeda – beda, tapi terlihat begitu menyejukkan hati”

Aku memegang kedua tangannya digan lembut. Berdiri berhadapan diatas jembatan yang menghubungkan dua sisi sungai Han. Tersiram sinar air mancur Jembatan Benpo yang berwarna – warni (walau aku sadar bukan hanya kami yang berda disini untuk menikmati malam tahun baru) tapi aku tidak peduli lagi. Aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya malam ini.

“Malika, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku Sangat mencintaimu” kataku sesingkat mungkin. Dia pasti juga sudah tau aku mencintainya.

“aku juga begitu” jawabnya, sedikit lirih. Wajahnya seketika berubah menjadi pucat.

“kenapa? Apa aku salah mengatakan ini?” tanyaku penasaran

“tidak” jawabnya sambil menggelengkan kepala

“lalu kenapa?” kataku selembut mungkin

“kita berbeda Leeteuk” jawabnya

“berbeda? Bukankah kau sering bilang perbedaan itu indah?” jawabku sambil terus menatap wajahnya

“perbedaan itu memang indah, tapi terkadang perbedaan tidak harus menyatu untuk menjadi satu keindahan bukan?” jawabnya semakin lirih.

Aku jelas melihat ada secercah air yang tergenang dipelupuk matanya. Dia ingin menangis.

“tapi aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak pernah mencintai wanita selain Ibu dan Adikku seperti aku mencintaimu” aku mencoba menjelaskan padanya

“aku juga begitu. Tapi sadar akan perbedaan kita, itu sangat jauh. Maafkan aku.” Katanya melepas gemnggaman tanganku, berbalik dan berlalu dari hadapanku, mulai menghilang ditengah semaraknya letupan kembang api pergantian tahun. Dia menangis. Aku jelas melihat itu.

Kenapa disaat seperti ini harus ada perbedaan? Aku benar-benar mencintainya. Walau aku tahu dia berbeda denganku.

———————————————————————————————————————————————–

Seoul, 5 Januari 2010

Sudah hampir seminggu sejak kejadian malam itu, aku tidak bertemu dengannya. Dengan wanita yang hanya dengan melihat senyumnya hatiku bisa terasa teduh dan nyaman. Wanita yang hanya dengan menatap matanya aku tahu dia benar-benar jujur dan apa adanya. Wanita yang dengan segala apa yang ada dalam dirinya telah membuat aku jatuh cinta. Dan wanita yang telah mengajariku akan perbedaan yang sesungguhnya.

Aku sudah menghubunginya semalam. Meminta untuk bertemu dengannya malam nanti di Menara Seoul. Aku ingin mengungkapkan sesuatu yang akan menghapus perbedaan antara kami berdua, perbedaan yang menurutnya indah tapi tidak harus bersatu.

Seoul Tower 20.15

Dari jauh aku sudah melihat dia sudah berdiri disana. Tersiram sinar lampu sorot dari atas menara. Dia tetap terlihat Manis. Dia Malika.

“maaf aku terlambat, sudah lama?” tanyaku mencoba menyapanya.

“ahhh, tidak. Baru saja” jawabnya

“malika, aku ingin mengatakan sesuatu.” Lanjutku tidak sabar ingin mengatakan hal yang selama beberapa hari ini sudah kupikirkan dan akhirnya telah kuputuskan

“apa???” katanya dengan wajah mulai bertanya-tanya

“aku akan masuk Islam” jawabku dengan senyum terkembang

Tiba-tiba tangan halus gadis ini melayang dan mendarat dipipi kiriku, dia menamparku.

Kenapa? Kenapa dia menamparku? Bukankah harusnya dia senang aku mengatakan ini? Tapi kenapa dia malah terlihat marah padaku?

“kenapa? Kenapa kau ingin masuk Islam?” dia bertanya padaku dengan air matanya yang sudah mulai mmbasahi kedua pipinya

“karna aku ingin tidak ada perbedaan lagi diantara kita. Karna aku sangat mencintaimu. Dan aku ingin bersamamu selamanya. Apa kau…”

“sudah cukup” katanya memotong kalimatku dan melanjutkannya lagi…

“agama bukan ajang permainan Leeteuk. Aku juga tahu kau mengatakan ini bukan dari hatimu yang paling dalam. Tapi karna keterpaksaan dan nafsu yang ada dalam jiwamu.” Jelasnya.

Dia memang benar. Aku tidak boleh munafik. Dalam hatiku hanya ada satu Tuhan. Yaitu Yesus. Tuhan yang selama ini aku meminta dan memohon, Tuhan yang selama ini aku sembah. Aku juga tidak boleh egois, hanya karna aku ingin memiliki Malika aku sampai harus mengorbankan rasa cintaku pada Tuhanku sendiri. Aku tidak siap meninggalkan Tuhanku sendiri dan masuk kedunia yang entah aku bisa memahaminya atau tidak.

“tapi kita masih bisa hidup bersama dengan perbedaan ini” pintaku terus meyakinkannya.

“tidak. Bagiku itu adalah dosa beasar. Menyatukan hal berbeda yang sesungguhnya tidak ada dalam hatiku” terangnya

“Leeteuk” malika kemudian menggenggam tanganku. Dan menatapku tajam tapi penuh rasa kasih.

“aku terlahir sebagai seorang muslim. Dan aku ingin pergi menghadap Tuhanku sebagai seorang muslim yang tetap beriman kepada-Nya. Aku tahu kaupun begitu. Dan aku ingin, ada orang yang mencintaiku, bukan karna diriku, tapi karna dia mencintai Tuhanku sepenuhnya.”

Dia melepas genggaman tangannya, dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

Sebuah kotak kecil.

“Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu. Tapi perasaan cinta, rindu, dan kagumku pada Tuhanku, lebih besar dari apa yang aku rasakan padamu. Maaf “ katanya kemudian memberikan kotak kecil itu padaku dan berlalu pergi. Kembali meninggalkan aku dalam dilema yang mungkin saja bisa mmbunuhku.

———————————————————————————————————————————————–

Seoul, 6 Januari 2010

Aku duduk diatas tempat tidurku menatap semua isi kotak yang diberikan Malika tadi malam. Isinya hanya berlembar-lembar photoku. Photoku bersama dia saat bermain diSeoul Park. Bahkan ada gambar dimana aku beberapa malam terus mencari dan menunggunya dibawah Menara Seoul. Ternyata secara diam-diam setiap malam dia ada disana dan mengambil gambar diriku tanpa sepengetahuanku. Hasil gambarnya sangat bagus. Selain gambar-gambar ini ada selembar surat yang dia tulis dan memberitahuku kalau hari ini dia akan kembali ke Indonesia.

Terlintas semua kenangan tentangnya dipikiranku. Tanpa pikir panjang, aku mengambil Jaket, kunci mobil dan menuju bandara Incheon.

Dibandara seluas ini, bagaimana caranya aku bisa menemukannya? Menemukan sosok wanita yang benar-benar aku cintai. Akhirnya aku bertanya pada pusat pelayanan informasi. Wanita cantik ini mengatakan bahwa pesawat menuju Indonesia sudah berangkat 20 menit lalu.

Jadi aku hanya terlambat 20 menit? Apa yang tadi aku lakukan? Bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal saja aku tidak bisa. Aku mulai Goyah, pikirannku melayang entah kemana, yang terbayang hanya wajah Malika yang penuh ketulusan. Aku menangis. Entah kenapa air mataku sudah jatuh begitu saja.

Aku memutar pandangannku berharap tiba-tiba dia berdiri didepanku dan mengatakan tidak jadi pergi kemudian memelukku seperti adegan diflm-film. Sungguh, aku benar-benar membutuhkan senyumannya saat ini.

Tapi semua terlambat. Dia sudah pergi. Pergi meninggalkanku yang berbeda dengannya..

Dia telah pergi membawa perbedaan yang tidak bisa menyatukan kami.

Ya, perbedaan itu indah, seindah senyumnya. Tapi perbedaan yang indah itu kadang kala tidak harus menyatu. Aku Mencintaimu, dengan perbedaan-perbedaan antara kita, Malika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: