MAYAMI 1

Published 15 Agustus 2010 by RahayuAdriani

Detektif Mayami Part 1
Book 1

“ MAYAMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII ”
Oh my God,,, Kapan aku bisa terbebas dari siksaan ini?
Heran? Dulu sebelum renkarnasi aku ngelakuin dosa apa ya? sampai dapat hukuman kayak gini?
Kenapa dia gitu?
Lebih baik terjebak dikandang macan deh dari pada tinggal sama dia.

Huwaaaaaaaaaaaa aku ngomong apa sih? Pertanyaan yang setiap harinya aku ulang terus,,, dasar bodoh…………… bagaimana bisa lo keluar dari rumah ini? Lo kan bakalan tinggal disini untuk……………….. selamanya, tunggu… selamanya??? TIDAAAAAKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!

Hay, namaku Mayami Edogawa. Nama yang aneh bukan? aku nggak tahuh kenapa orang tuaku ngasih nama itu. Yang aku tahu nama itu adalah hasil esperimen kakakku yang very-very loving banget sama tokoh dalam komik kesayangannya, Conan Edogawa.

Alhasil, saat aku dilahirkan kedunia ini, kakakku dengan seenaknya memberikan nama aneh itu padaku, padahal kami sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan Edogawa itu. Baik, berhenti membicarakan tokoh Edogawa yang kusebut…… nggak penting!!!!

Saat lulus dari Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (kepanjangan) singkatnya SMP, lagi-lagi aku harus mengalami satu musibah besar. Aku harus tinggal bersama kakak yang super nyebelin. Padahal sebelumnya aku udah ngalamin kedamaian tinggal bersama orang tuaku diMojokerto Jawa Timur. Kakak yang setiap hari nggak pernah berhenti menyebut namaku dengan kekuatan getaran 1000,1000 MHZ sepertinya tidak akan pernah bisa melihatku merasakan kedamaian walaupun hanya sekejap. Bisa kalian bayangkan suara teriakannya saat memanggil namaku tadi? Fiuh……………………… Kayaknya aku mesti siap-siap memeriksakan kesehatan indera pendengaranku ke Psikiater deh. (ralat. Bukan Psikiater, tapi ke THT) eheheh…

Kalian Tahu? Setiap kesekolah aku mesti ngendarain alat transpormasi yang jadul banget, sepeda !! Iya sepeda!! Bayangin aja, siswa SMA Trotti Interntional kesekolah naik sepeda. Apa nggak malu banget tuh?? Terus…… Apa kata dunia???????

Tapi monster yang berkedok sebagai kakak itu mana mau tahu tentang siksaan batin yang aku rasakan?? Dimana keadilan yang diperjuangkan selama ini diIndonesia?? Dimana??????????? ( berlebihan!!!!!!! ).

Oiya, aku sampai lupa ngasih tau nama monster yang selama 2 tahun ini hidup denganku, Arista Adiatma.

Kayaknya aku mesti buru-buru bangun sebelum guyuran air sampai ke badanku deh…
“ Kamu bangunnya lama banget sih?? Liat tuh!! Udah jam berapa sekarang?? ” mulai deh raungannya.
“ Kakak kan bisa liat jam sendiri, kenapa mesti nanya ke aku sih? ” jawabanku sambil mengucek-ngucek mata yang belum karuan, tapi udah disuruh ngeliat jarum jam yang kecilnya………. Ya ampiun kecil banget..
“ Kamu kalo dikasih tau nggak usah ngeyel ya!!!! Udah bagus kakak bangunin kamu. Kamu mau terlambat kesekolah? Terus dihukum berdiri didepan tiang bendera sampai pulang sekolah? Terus kakak dipanggil kesekolah kamu? Terus…”
“ OKE….. fine, Aya’ mandi sekarang juga. Oke? ” Huh… kalo kak Ista ngoceh terus, bisa-bisa aku terlambat beneran neh…

************

Dikantin sekolah….
“ Hahahahaha………. Aya’-Aya’…”
“ Kok malah ketawa? Bukannya prihatin juga!! ” kataku sedikit jengkel dengan sikap “nggak lucu” yang dilakukan Moza.
“ Sorry deh sorry,, bukannya gue mau ngetawain lo Ya’, Cuma gue ngerasa lucu aja setiap lo cerita tentang kak Ista. Habis cerita lo itu mulu sih,,” Jawabnya dengan melanjutkan tawanya yang kusebut………
“ Farida Lo!!!! ” seraya pergi dari situ.
“ Eh-eh.. mau kemana? ” Tanyanya saat sadar aku pergi.
“ Mau ngadu sama Sembara kalo Mak Lampir ada disini! ” Jawabku enteng.
“ Maksud Lo????????? ” teriaknya agak penasaran.

O…Em…Jie…… kenapa aku mesti punya sahabat yang seperti itu?? Yap, suara Moza saat ngetawain aku kedengarannya persis seperti suara Farida Pasha pemeran Mak Lampir dalam Sinetron Gunung Merapi. Hehe…
Saat berjalan ditrotoar sekolah, nggak sengaja aku berpapasan dengan Dafa. Dafa itu teman sekelas ku. Dari pertama aku nginjakin kaki disekolah ini, aku udah suka sama dia. Tapi levelnya terlalu tinggi buat seorang Aya’. Semua anak perawan bahkan yang udah nggak perawan lagi disekolah ini, pada doyan sama yang namanya Dafa ini. Hiks Hiks………

So, kesempatanku buat dekat sama dia kecil banget, may be cuma 0,009 %. Dan lagi, aku nggak mau jadi saingan ratu “balon” yang setiap hari bergelantungan ditangan Dafa. Kayak anak monyet aja.

Cewek yang aku sebut ratu “balon” itu, Risa. Dia punya postur tubuh yang super sexi banget deh pokoknya. Apalagi “balonnya” wuuiiiiihh….. mantap. Sruuuup…

Kita semua satu kelas dari kelas 1 dulu. Dafa yang kalem dan cool, memilih duduk bersama Ario disudut ruang kelas, aku dan Moza duduk dibangku kedua dari depan didekat jendela. Lalu, si ratu “balon” duduk pas didepanku bersama Iren, ajudannya.

***********

Hari ini kami ada les tambahan untuk mata pelajaran Olah Raga. Jadi otomatis kami harus tinggal sekitar 3 jam untuk itu.

Setelah selesai mengganti pakaian, aku kembali kekelas bersama Moza untuk kemudian bergabung bersama teman-teman yang lain dilapangan.

“ Moz, kira-kira sebentar mata ORnya apa ya? Senam lantai kan udah, FootSall juga minggu lalu udah ” Aku coba nanya sama Moza.
“ Ya, yang gue denger sih kita bakalan latihan basket ball ” jawabnya.
“ Oh…. ” Jawabku singkat.

Sesampainya dikelas, ternyata tinggal aku, Moza dan Lisa yang ada dikelas.
“ Loh? Lisa? Kok lo masih disini? Belum turun? ” Tanya Moza pada Lisa.
“Aku kan masih ada disini, berarti aku belum turun. Iya kan? ” jawab Lisa asal.
“ Hehehe… bener juga ya? ” Ucap Moza dengan muka idiotnya.
“ Udah ah… turun yuk,, temen-temen udah pada turun semua tuh!!! ” ajakku pada kedua orang yang sama-sama idiot ini. Hehe…

*********

Fiuh…. Cape juga habis main Basket. aku, Moza, dan Lisa memilih beristirahat sebentar dipinggir lapangan sebelum kembali kekelas, sebenarnya bukan istirahat, tapi lebih tepatnya, TERKAPAR dipinggir lapangan. Huhuhu……

“ Ya ampiun…… apa sekarang kita ada disurga? ” Tanya Moza yang udah mulai ngelantur.
“ Kayaknya sih gue udah nyampe, tapi kok lo malah masuk keneraka sih?” pertanyaanku sepertinya membuat Moza kaget.
“ Hah?????? Sialan lo ” responnya.
“ Hahaha…” tawa ku dan Lisa meledak.
“ Salah sendiri, bukannya beliin minum malah ngelantur kemana-mana. Udah nyampe surga segala lagi lo!!!.” Kataku
“ Eh,, aku beli minum dulu ya. Kalian mau nitip apa? ” tawar Lisa
“ What Ever ” gue dan Moza jawabnya kompak. Wah,, kejadian ini bisa dapat rekor MURI neh. Nggak biasanya gue sama Moza bisa kompak kayak gini.

Beberapa menit kemudian.
“ Za, Lisa kok lama banget ya? ” tanyaku yang udah nggak bisa nahan haus lagi.
“ Iya nih. ” Jawab Moza singkat.
“ Aduh sorry ya teman-teman, kelamaan ya nunggunya? Tadi kantinnya nggak ada yang jaga. Makanya aku nunggu dulu. ” Kata Lisa menerangkan duduk persoalannya ( berlebihan ).
“ Ah nggak apa-apa Lis, mana minumnya? ” kata Moza yang udah nggak sabar.
“ Thanks ya udah dibeliin. ” Kataku.
“ Welcome ” jawabnya singkat.

Jam ditangan gue udah nunjuk pukul 16:21. gue, Moza dan Lisa bergegas kembali kekelas buat ganti baju. Setelah sampai dikelas kita langsung ganti kostum (artis kale ganti kostum) hehe…
“ Lisa, mau pulang bareng gue sama Aya’ nggak? ” Tanya Moza pada Lisa sambil membereskan seragam ORnya.
“ Nggak deh, makasih. Aku mau mampir kerumah pamanku dulu. ” Jawabnya
“ Oh ya udah. ” Kata Moza singkat

Setelah selesai mengganti pakaian, aku nyuruh Lisa buat masukin seragam ORnya kedalam tas.
“ Lis, udah seragamnya buruan dimasukin. Udah sore banget neh. Entar kita pulangnya telat lagi. ” Kataku.
“ I..iya ” Jawab Lisa agak sedikit terbata-bata.

Setelah kami selesai, tiba-tiba si Ratu “balon” masuk bersama teman-teman yang lain. Dan sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi sama mahluk yang satu ini.
“ Pokonya gue nggak bisa nunggu sampai besok!!!!!! Ini udah tindakan kriminal!!! Ini namanya nyuri!!! ” kata Risa dengan emosi yang…………….. meledak.
“ Iya, tapi kita kan nggak tau siapa yang ngambil?? ” Jelas Adam ketua keamanan dikelas ku.
“ Eh Dam, Lo kan ketua keamanan kelas kita, seharusnya lo bisa bertanggung jawab dong!!! ” mulai lagi tuh raungan si Ratu “balon”
“ Ya gue kan juga nggak bisa jagain semua barang-barang lo. Lo pikir gue tempat penitipan barang apa??? ” tegas Adam lantang.
“ Iya, tapi kan…. ” Lanjut Risa. Tapi kalimatnya dipotong oleh Dafa.
“ Udah deh. Sebaiknya sekarang kita cari jalan keluar buat mecahin masalah ini. Bukan malah adu mulut kayak gini. ” Jelas Dafa.

Waduh,,, kalo gini jadinya, aku makin bingung aja.
“ Dafa, sebenarnya ada apa sih? ” karna udah nggak sabar pengen tau apa yang terjadi, akhirnya aku memberanikan diri nanya sama Dafa.
“ Seragam Risa hilang ” jawabnya singkat.
“ Ooo… ” kataku diiringi anggukan kepala tanda orang idiot. Hehe

“ Pokoknya seragam gue harus ketemu hari ini juga. Masalahnya disitu ada cek kiriman dari bokap gue. ” Jelas Risa.
“ Jumlahnya berapa? ” Tanyaku tiba-tiba. Aduh.. Gue ngomong apa sih? Kok gue malah ngerespon kata-katanya Risa? Siapa tau aja dia Cuma bohong.
“ 13 juta. ” Jawabnya singkat. Mendengar jawaban itu semua tercengang. Bahkan jarum jam dinding kayaknya juga nggak bergerak deh.
“ 13 juta??? ” sahut kami bersamaan. Dan untuk beberapa detik keadaan masih terasa seperti dikuburan. Sampai satu suara dari bibir seseorang keluar.

“ Sebaiknya kita periksa semua tas yang ada diruangan ini. ”
Yap, itu suara Dafa.
“ Oke ” jawab kami serempak.

*********

Aku, Dafa, Andry dan Adam yang melakukan pencarian. Mungkin kalian bingung kaenapa hanya kami yang melakukan kegiatan yang ku anggap konyol ini. Itu karna aku bertugas sebagai sekretaris dikelas. Sedangkan Dafa adalah ketua kelas dan wakilnya adalah Andry. Adam adalah Ketua keamanan kelas.

Dalam ruang kelas, ada empat susunan bangku yang menjulur panjang kebelakang. Jumlah bangku dalam setiap susunan berjumlah 4 pasang. Artinya dalam satu susunan bangku, ada 8 anak yang duduk. Jadi, bila semua dijumlahkan hasilnya 32 bangku.

Semua bangku yang ada dalam kelas terisi penuh. Aku dan Moza duduk pada bangku kedua dibawah jendela.

Aku memeriksa susunan bangku kedua dari pintu. Dafa dibagian susunan bangku pertama, Andry pada susunan bangku ketiga, dan Adam susunan bangku keempat tempat aku, Moza, dan Lisa duduk. Hampir semua isi tas sudah diperiksa, namun tidak ada satupun yang menggambarkan adanya seragam Risa disana. Sampai akhirnya….

“ Ketemu!!! ” itu suara Adam. Seisi ruangan menoleh dan melihat apa yang membuat Adam berkata seperti itu, dan… Oh My God??? Ditangan Adam terlihat sebuah seragam berwarna putih abu-abu yang baru ia keluarkan dari sebuah tas berwarna biru tua milik…. Lisa???

Beberapa saat semua hanya terdiam dengan keadaan ini. sampai Risa berjalan kearah Adam dan berusaha mencari sesuatu dari dalam saku, dan berkata….
“ Good, ceknya masih ada. Tapi…. Siapa pemilik tas ini?? ” tanyanya kemudian.
“ I… i… itu tasku ” Jawab Lisa dengan suara terbata-bata.
Semua menoleh kepada Lisa. Tidak terkecuali aku, dan Risa.
“ Oh… jadi lo yang nyuri seragam gue?? ” timpal Risa seketika.
Risa mencoba mendekati Lisa dengan kepalan tangan kanan yang siap mendarat diwajah lugu Lisa. Untungnya Dafa cepat menghambat langkah Risa.
Lisa hanya bisa tertunduk dan berlindung dibalai tubuh Adam.
“ Lepasin gue Ga!!! Nih anak mesti dikasih pelajaran biar nggak nyuri lagi!!! ” Timpal Risa berusaha melepaskan genggaman tangan Dafa dari lengannya.
“ Iya gue tau.. tapi bukan begini caranya!! ” Sahut Dafa
“ Terus kita mesti kayak gimana??? Hah?? Kita Cuma bisa ngebiarin dia nyuri barang-barang kita?? Iya???!!! ” Teriak Risa makin tak sabar. Sabar Bu…
“ Kita bisa nanya dia baik-baik kan? Kita minta penjelasan dulu dari dia!!” Terang Dafa
“ Penjelasan apa lagi coba?? Jelas-jelas seragam gue ada dalam tasnya dia!!! ” Timpal Risa
“ Iya siapa tau dia punya alasan tertentu Ris. Gue minta sama lo, lo tenang dulu. Biar gue sama yang lainnya yang ngadepin semuanya. Oke?? ” pinta Dafa. Ya ampiiiiun,, Dafa keren banget kalo lagi ngomong kayak gitu.
“ Oke. ” Jawab Risa singkat.

Sesaat setelah itu, Risa agak sedikit tenang. Dan duduk dibangku depan. Dafa mendekati Lisa dan mulai menginterogasinya (polisi kalee)
“ Lis, apa alasan lo dengan semua ini?? ” Tanya Dafa pada Lisa.
“ A… a… aku nggak tau. Bukan aku yang ngambil seragam itu ” jelas Lisa. Tiba-tiba…

BRUUUKKKK!!!!!
Risa berdiri dan memukul bangku.
“ Lo jangan bohong ya!!! Eh, seragam gue ini didapat dari dalam tas jelek lo itu!!! Bilang aja lo mau nyuri cek gue kan!!!!??? ” Timpal Risa.
“ Ris, gue minta lo tenang. Biarin Lisa ngejelasin dulu. Biar masalah ini cepet selesai. ” Kata Dafa.

Akhirnya Risa duduk kembali. Dan Lisa mencoba menerangkan lagi.
“ Aku nggak ngambil seragam itu. Dari tadi, aku, Moza dan Aya’, ada dilapangan terus. Terus aku kembali kekelas sama-sama mereka juga. ” Terang Lisa. Kemudian Dafa menoleh padaku dan bertanya….
“ Benar begitu?? ” tanyanya dengan tatapan kosong.
“ I… iya ” jawabku singkat.
“ Tapi tadi setelah istirahat, Lisa kekantin buat beli air. Kira-kira dia pergi sekitar 15 menit ” Lanjutku.
“ Itu karna dikantin penjaganya nggak ada!! ” terang Lisa.
“ Bener, tadi gue sama Lisa nunggu disana sekitar 15 menit waktu gue juga pengen beli minuman. Dan penjaga kantinnya memang nggak ada. ” Sambung Desy.

Semua kembali berfikir. Sampai kata-kata konyol keluar dari mulutku.
“ Bukan Lisa pelakunya!!! ” terangku. Jangan ditanya kalo semua mata menoleh padaku. Karna kata-kata konyol itu pastinya. Huwaaaaaaaa apa yang baru aku katakan??
“ Kok lo bisa ngomong gitu?? Memangnya lo udah tau siapa pelakunya?? ” Tanya Risa dengan tatapan sinisnya.
“ Nggak. Eh,,, maksudnya, gue belum tau. Tapi yang jelas, bukan Lisa pelakunya. ” Kataku.
“ Alasan lo apa sampai berani ngomong kayak gitu?? ” Tanya Risa kembali.
“ Gini, ibaratin aja kalo lo yang nyuri” kataku mencoba menjelaskan. Tapi sepertinya Risa tidak terima aku bicara seperti itu. Dan menyipitkan matanya padaku.
“ Aaa… oke, kita ganti aja. Bukan Risa, tapi gue. Seumpama gue nyuri barang milik orang lain, gue nggak mungkin sebodoh itu sampai barang curian gue, gue simpan ditempat yang mudah ditemukan seperti ditas gue sendiri. Tentu gue bakalan simpan barang itu ditempat yang gue rasa aman dan nggak bakalan ditemuin sama orang lain, apalagi sama pemiliknya sendiri. Misalnya gue simpan dibawah got mungkin? ” Jelasku panjang lebar.

Mendengar penjelasanku itu, semua mengangguk.
“ Lo benar juga ” puji Dafa.
“ Thanks ” jawabku tersipu-sipu.
Ah… senengnya gue dapat pujian dari Dafa. Hehe…
“ Kalo gitu, siapa yang naroh seragam itu ditas Lisa? ” Tanya Adam yang membuat kami kembali……….. berfikir.

“ Pokoknya kita harus tau siapa yang ngelakuin semua ini sama gue. Ini bukan hanya buat kebaikan gue doank, tapi untuk kita, dan untuk keamanan kelas kita. Kita mesti tau siapa pelaku sebenarnya, biar dia bisa dihukum, dan nggak ngulangin itu lagi ” terang Risa.

Semua kembali berfikir, tidak terkecuali aku. Risa yang dari tadi seperti orang kebakaran jenggot, terlihat terus grasak grusuk. Mirip banget sama orang Strees. Hehe…
Fiuh……. Aku menarik nafas panjang lalu melepaskannya keudara. Nggak kerasa udah sekitar 30 menit kami berfikir seperti orang gila. Dafa dan yang lainnya terlihat lelah, ini mungkin karna tadi kami habis berolah raga. Akupun juga udah mulai nyerah, sampai aku menoleh kearah bangku Lisa dan melihat seragam Lisa yang masih berhamburan dilantai setelah pemeriksaan tadi. Dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya?? Kata-kata konyol kembali keluar dari bibirku.
“Gue tau pelakunya ” kataku singkat. Sekali lagi, semua mata menoleh padaku. Ya, aku memang sudah tau apa dan bagaimana ini bisa terjadi.

“ Maksud lo? ” Tanya Moza dengan sipitan matanya tanda nggak percaya.
“ Lo beneran udah tau pelakunya siapa? ” Tanya Dafa.
Kali ini aku tidak menanggapi apa yang dikatakan Dafa.
“ Lo jangan main-main ya, kita disini udah capek berfikir!!! ” kata Risa.

“ Siapa yang main-main?? ” Kataku tanpa ekspresi wajah sedikitpun.
“ Kalo gitu ayo buruan,,!!! Siapa pelakunya!!!???? ” Tanya Risa yang udah nggak sabar. Lalu aku mulai menjelaskan kembali…
“ Gue benci mengatakan ini, tapi pelakunya adalah Lisa. ” Terangku.
Aku sadar, semua mata menatapku dengan perasaan masih bertanya-tanya tentang apa yang aku katakan tadi. Sedang aku, hanya tertunduk dan nggak berani menatap siapapun yang ada disekelilingku. Terutama, Lisa. Maafkan aku Lis,,,

“ Kenapa lo bilang gitu Ya’? bukannya tadi lo sendiri yang bilang kalo bukan Lisa pelakunya?? ” pertanyaan Dafa tadi membuatku mengangkat kepala yang sedari tadi tertunduk dan mencoba menatapnya. Kemudian aku kembali menjelaskan…

“ Kalian tau, nggak mudah untuk mengatakan ini semua. Tapi, gue juga mau tau, apa yang membuat Lisa melakukan ini. ” Kataku.

Mendengar kata-kataku tadi, semua saling menatap satu dan yang lainnya. Aku sadar apa yang aku lakukan ini membuat Lisa dapat membenciku seumur hidup. Tapi, aku mau ini berakhir dengan lebih cepat.

“ Iya, pelakunya adalah Lisa. Gue tau dia yang ngelakuin semua ini, karna gue sendiri yang jadi saksinya ” lanjutku.
“ Saksi?? Jadi lo ngeliat dia nyuri seragam gue?? Terus tadi lo coba ngelindungi dia??? ” teriak Risa padaku.
“ Gue minta lo berhenti nyebut kata-kata nyuri itu Ris!!! Karna dari awal Lisa nggak pernah niat buat nyuri seragam lo itu!!! ” timpalku yang membuat Risa kaget dan kembali duduk.
“ Awalnya memang gue nggak tau kalo Lisa pelakunya. Gue juga udah hampir nyerah. Sampai…” Kalimatku berhenti dan menunjuk seragam Lisa yang berhamburan dilantai.
“ Gue ngeliat seragam itu.” Kataku. Semua menoleh pada seragam Olah Raga milik Lisa.
“ Maksud lo apa?? Jadi Cuma gara-gara ngeliat seragam itu lo udah bisa tau pemilik seragam itu yang jadi pelakunya?? Lucu banget!!! ” timpal Risa.

“ Dam, tadi lo kan yang ngeluarin seragam itu dari tas Lisa? ” tanyaku pada Adam dan tidak memperdulikan kata-kata Risa tadi. Adam mengangguk.
“ Saat lo memasukkan barang-barang lo dalam tas, tentu benda-benda lain yang ada dalam tas lo, akan bisa lo liat kan?? Tapi ini adalah kesalahan terbesar Lisa. tadi pas selesai ganti baju, gue nyuruh Lisa buat masukin seragam Olah Raganya ke tas. Waktu itu, dia pasti bisa ngeliat ada seragam lain dalam tasnya, tapi dia tetap memasukkan seragamnya sendiri. Seharusnya dia ngomong sama gue, kalo ada barang yang bukan punya dia dalam tasnya. Tapi Lisa nggak bisa ngelakuin itu. Karna, dia sendiri yang memasukkannya. ” Jelasku.

Mendengar penjelasanku itu, semua menoleh pada Lisa. Dan Lisa, hanya bisa tertunduk tanpa suara.
“ Benar juga!! Berarti dia menyimpan seragam Risa ditasnya, itu karna…” Kata Andry seraya menatap Lisa dan yang lainnya.
“ Iya, supaya kita menyangka dia difitnah oleh orang lain. Seperti perkiraan gue di awal tadi ” Jelasku singkat.

Semua hanya bisa menatap Lisa dengan tatapan nggak percaya.
“ Jadi bener kan lo yang ngambil seragam gue?? Lo mau nyuri cek ini kan??? ” Tanya Risa dengan memperlihatkan cek itu pada Lisa.
“ Nggak Ris, Lisa nggak pernah niat buat ngambil cek lo itu. Seandainya dia mau cek itu, pasti Cuma itu yang dia ambil, tanpa harus susah-susah ngelakuin alibi seperti ini.. menyembunyikan seragam lo dalam tasnya. ” Jelasku lagi.
“ Kalo gitu apa maksud lo ngambil seragam gue hah??? ” timpal Risa seketika.
“ Balas dendam ” jawab Lisa singkat. Mendengar kalimat itu keluar dari bibir Lisa, semua kembali tercengang.
“ Iya, aku mau balas dendam pada orang sepertimu. Orang yang tidak memiliki perasaan sedikitpun pada sesama. Orang angkuh sepertimu memang harus diperlakukan seperti itu. ” Jelas Lisa kemudian
“ Maksud lo apa?? ” Tanya Risa tak mau kalah.
“ Kamu udah lupa ya?? Saat pertama masuk kesekolah ini, kamu membakar seragam yang aku dapat dari hasil kerja kerasku untuk bisa mendapat beasiswa. Kamu ingat, kamu dan Iren merampas seragam itu dari tanganku, dan menuntunku kegudang belakang sekolah. Kamu melakukan itu semua hanya karna rasa cemburu dan rasa keegoisan kamu. Kamu nggak pernah terima kalo aku yang mendapat beasiswa itu, dari waktu kita masih SMP dulu, kamu nggak pernah mau mengalah dari aku Ris… kakakmu sendiri. ” Kata Lisa menutup ceritanya. Yang paling tidak bisa kami percaya, Lisa adalah Kakak dari Risa.

“ Apa?? Jadi Lisa kakak lo Ris?? ” kali ini Iren angkat suara. Kemudian kembali berkata
“ Gue nggak nyangka selama ini lo bohongin gue. Lo bilang, Lisa itu anak pembantu lo, tapi ternyata… gue nggak habis fakir sama lo Ris. ” Kata Iren yang menatap Risa dengan perasaan belum percaya dengan apa yang telah terjadi.
Bukan hanya Iren, aku dan teman-teman yang lain juga masih diliputi perasaan tentang apa yang baru terjadi. Penjelasan Lisa, membuka satu fakta yang selama ini Risa sembunyikan dari kami.

“ Aku bukan saudara kandung Risa. Ibuku meninggal. Dan Ayah menikahi Ibu Risa. Ayah bekerja diluar kota, dia hanya bisa pulang sekali dalam sebulan. Cek itu sebenarnya untuk keperluan bulanan kami. Tapi seumur hidup, aku tidak pernah melihat cek yang dikirimkan Ayah pada kami. Aku mengambil seragam Risa, hanya untuk membuat dia kapok sekali-kali. Aku sama sekali tidak tau kalau cek itu ada dalam sakunya. ” Tutup Lisa.

Sekarang semua mengerti tentang keadaan Lisa yang sebenarnya. Akupun begitu. Dibalik wajahnya yang lugu, ternyata Lisa menyimpan perasaan dendam yang kuat, sehingga saat perasaan itu tak dapat dibendungnya lagi, dia mampu melakukan hal bodoh seperti ini.
Saat Lisa bilang akan mengaku sendiri pada Guru BK ( Bimbingan Kortselin ) aku hanya tertunduk dan berkata…
“ Maafin gue Lis…. ”
“ Makasih atas bantuan kamu Ya’, aku bisa mendapat keberanian ini karna keberanian yang kamu tunjukan padaku. ” Jawab Lisa sesaat dia berlalu dari hadapanku.

Fiuh…..
Akhirnya kasus ini selesai juga. Hari dimana seorang Lisa harus mengungkapkan keegoisan seseorang kepada orang lain. Hari dimana aku harus menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya tidak ingin kulakukan. Hari dimana rasa dendam itu telah terbayarkan.

Saat berjalan pulang sekitar pukul 18:21, Moza terus menghiburku dengan petuah-petuah yang aku bilang……… Nggak pentiiiiing………!!

“ Aya’-Aya’, apa yang tadi lo lakuin itu menurut gue udah benar. Coba lo liat, seandainya aja lo nggak ngebongkar itu semua, pasti rahasia tentang Lisa dan Risa belum kita tau sampai sekarang. Lo liat juga kan, Lisa malah bilang makasih sama lo. Katanya dia bisa dapat keberanian buat ngungkapin semuanya karna lo Ya’. ” Terang Moza.
“ Moza bener ” kata Dafa yang tiba-tiba aja nongol dihadapan gue dan Moza. Kayak hantu aja. Hehe

“ Gue salut sama keberanian lo yang bisa ngelawan perasaan bersalah lo sama Lisa supaya bisa ngungkap siapa pelakunya. Dan karna lo juga, kita bisa tau, siapa Risa sebenarnya. Ya kan?? Detectif. ” Kata-kata Dafa tadi membuat aku menganggukkan kepala. Aduh senengnya dipanggil Detectif sama Dafa …. ^_^

Ya… mungkin aku memang bisa jadi Detectif. Tapi aku harus belajar memerangi perasaan takut dalam diriku untuk mengungkapkan fakta yang sebenarnya.

“ Oh iya Ga, gimana mereka berdua? ” tanyaku pada Dafa.
“ Lisa dan Risa sama-sama dapat Skortsin. Risa 3 hari, dan Lisa seminggu. Itu yang gue denger. ” Jelas Dafa.

Aku hanya tersenyum kecil. Hari ini benar-benar melelahkan, tapi memiliki makna yang berarti. Aku harap, besok hari seperti ini akan terjadi lagi dalam hidupku.

Satu lagi, sekarang aku jadi lebih bisa menerima nama aneh pemberian kakakku ini. Mayami Edogawa.

Dari Penulis

Hoi-hoi….
Thanks God, akhirnya ne novel mini selesai juga.
Fiuh…. Setelah rasa cape’, mondar-mandir nyari inspirasi, keluar masuk kamar buat nginput kisahnya kekomputer, akhirnya kelar juga. Ya lumayanlah buat calon penulis hebat kayak aqyuuu… ( hehe narsis ).

Cerita dari the little novel ini agak sedikit beda dari cerita-cerita yang pernah q buat sebelumnya. Isinya lebih mengarah pada alibi-alibi aneh yang membingungkan dan tidak monoton kepada kisah percintaan remaja.

Key Gayzt….
Izinkanlah makhluk Tuhan paling Ganteng ini ber Thank You – Thank You…
Buat Mother Qyuuu yang setiap hari nggak brenti-brentinya ngoceh dan ngasih Question-Question membosankan ( apakah itu kau ketik? ) hehe
Buat Father Qyuu yang nggak pernah ngasih komentar berlebihan. Paling dia Cuma bilang gini “OOOOOOOO” huehue……

Juga buat My Litlle Girl, Annisa yang always bikin gw marah-marah, maafkan tantemu yang kejam ini ya nak ……
Hiks Hiks…

And buat friend-friend qyuu,
Thanks alone for you attention to me. Cause your all, I can finished writing in this is My The Litlle Novel….
( Edede… ngomong apa sih lo ndro?? )
Yop, intinya…. Karna kalianlah novel ini bisa selesai. Daku jadi terharu… Hoe…. Hoe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: